Wednesday, June 17, 2009


Muhammad Ilyas Ruchyat, KH (1934-2007)

Ajengan Pesantren Cipasung



BIODATA

Nama:
KH Muhammad Ilyas Ruchyat
Lahir:
Cipasung, Tasikmalaya, 31 Januari 1934
Meninggal:
Cipasung, Tasikmalaya, 18 Desember 2007
Agama:
Islam

Isteri:
Hj Dedeh Fuadah (Alm)
Anak:
- Acep Zamzam Noor
- Neng Ida Nurhalida
- Enung Nur Saidah
Ayah:
Ruhiat bin Abdul Ghofur
Ibu:
Aisyah binti Kosasih

Jabatan:
- Pemimpin Pondok Pesantren Cipasung Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1994-1999)
- Anggota MPR Utusan Daerah Jawa Barat (1992-1997)
- Anggota DPA Komisi Kesra (1998-2003)

Mantan Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1994-1999) dan Pemimpin Pondok Pesantren Cipasung Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, KH Muhammad Ilyas Ruchyat meninggal dunia hari Selasa 18 Desember 2007 pukul 16.15 di kediamannya di Pondok Pesantren Cipasung karena sakit.

Ajengan Cipasung kelahiran 13 Januari 1934 yang mantan anggota MPR Utusan Daerah Jawa Barat (1992-1997) dan anggota DPA Komisi Kesra (1998-2003), itu meninggalkan tiga anak dan 11 cucu. Sementara isterinya, Hj Dedeh Fuadah, telah meninggal dunia enam bulan sebelumnya, juga karena sakit. Jenazah almarhum dimakamkan Rabu (18/12/2007) di pemakaman keluarga di kompleks pesantren tersebut.

Putra sulung almarhum, Acep Zamzam Noor, mengatakan sebulan terakhir ayahnya dirawat di rumah karena komplikasi stroke, jantung, dan diabetes. Sebelumnya dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung, selama dua bulan. Kemudian dibawa pulang, karena dokter menyatakan sudah bisa dirawat di rumah.

Almarhum sudah menderita diabetes sejak tahun 1970-an. Dalam lima tahun terakhir sudah terkena stroke ringan tiga kali. "Yang terakhir kali mengakibatkan almarhum sudah tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan, selama ini almarhum sudah tidak bisa lagi berkomunikasi," tutur Acep. Saat detik-detik menghembuskan nafas terakhir, almarhum didampingi dua puterinya, Neng Ida Nurhalida dan Enung Nur Saidah, serta sejumlah kerabat dan santri.

Ribuan santri dan para pelayat dari berbagai daerah ikut menyalatkan jenazah almarhum di masjid di lingkungan pesantren menjelang magrib sekitar pukul 17.30. ►ti/tsl


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

//-->

Tuesday, June 16, 2009


Nurcholis Madjid

Berpulang Dalam Damai




Nama:
Nurcholis Madjid
Lahir:
Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939
Meninggal:
Jakarta, 29 Agustus 2005
Agama:
Islam
Isteri:
Omi Komariah
Anak:
- Nadia Madjid
- Ahmad Mikail
Menantu:
David Bychkon

Ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia, Nurcholis Madjid menghembuskan nafas terakhir dengan wajah damai setelah melafalkan nama Allah pada Senin 29 Agustus 2005 pukul 14.05 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI), Jakarta Selatan. Cendekiawan kelahiran Jombang, Jawa Timur, 17 Maret 1939, itu meninggal akibat penyakit hati yang dideritanya.

Cak Nur, panggilan akrabnya, mengembuskan napas terakhir di hadapan istrinya Omi Komariah, putrinya Nadia Madjid, putranya Ahmad Mikail, menantunya David Bychkon, sahabatnya Utomo Danandjaja, sekretarisnya Rahmat Hidayat, stafnya Nizar, keponakan dan adiknya.

Cak Nur dirawat di RS Pondok Indah mulai 15 Agustus karena mengalami gangguan pada pencernaan. Pada 23 Juli 2004 dia menjalani operasi transplantasi hati di RS Taiping, Provinsi Guangdong, China.

Jenazah Rektor Universitas Paramadina itu disemayamkan di Auditorium Universitas Paramadina di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Kemudian jenazah penerima Bintang Mahaputra Utama itu diberangkatkan dari Universitas Paramadina setelah upacara penyerahan jenazah dari keluarga kepada negara yang dipimpin Menteri Agama Maftuh Basyuni, untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata Selasa (30/8) pukul 10.00 WIB. Sementara, acara pemakaman secara kenegaraan di TMP Kalibata dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Alwi Shihab.

Sejumlah tokoh datang melayat dan melakukan shalat jenazah. Di antaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid, Syafi’i Ma’arif, Siswono Yudo Husodo, Rosyad Sholeh, Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Azyumardi Azra, mantan Ketua DPR Akbar Tandjung, Ketua Panitia Ad Hoc II DPD Sarwono Kusumatmadja, Wakil Ketua DPD Irman Gusman, Agung Laksono.

Juga melayat Pendeta Nathan Setiabudi, Kwik Kian Gie, dan banyak lagi. Sementara pernyataan dukacita mengalir antara lain dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin), Presidium Pusat Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia, keluarga besar Solidaritas Tanpa Batas (Solidamor), dan lain-lain.

Seluruh bangsa Indonesia kehilangan seorang tokoh yang menjadi ikon pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di negeri ini. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Dia menganggap penting pluralisme, karena ia meyakini bahwa pluralisme adalah bagian dari ketentuan Tuhan yang tak terelakkan.

Dia mengembangkan pemikiran mengenai pluralisme dalam bingkai civil society, demokrasi, dan peradaban. Menurutnya, jika bangsa Indonesia mau membangun peradaban, pluralisme adalah inti dari nilai keadaban itu, termasuk di dalamnya, penegakan hukum yang adil dan pelaksanaan hak asasi manusia.

Dr. Nurcholis Madjid (1)

Cendekiawan Muslim Milik Bangsa


Nurcholis Madjid, yang populer dipanggil Cak Nur, itu merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Ia cendekiawan muslim milik bangsa. Gagasan tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual muslim terdepan. Terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.

Namanya sempat mencuat sebagai salah seorang kandidat calon presiden Pemilu 2004. Namun akhirnya ia mengundurkan diri proses pencalonan melalui Konvensi Partai Golkar. Belakangan dia sakit dan sempat beberapa lama dirawat di Singapura.

Cak Nur lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga kiai terpandang di Mojoanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 17 Maret 1939. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal sebagai pendukung Masyumi. Setelah melewati pendidikan di berbagai pesantren, termasuk Gontor, Ponorogo, menempuh studi kesarjanaan IAIN Jakarta (1961-1968), tokoh HMI ini menjalani studi doktoralnya di Universitas Chicago, Amerika Serikat (1978-1984), dengan disertasi tentang filsafat dan khalam Ibnu Taimiya.

Nurcholish Madjid kecil semula bercita-cita menjadi masinis kereta api. Namun, setelah dewasa malah menjadi kandidat masinis dalam bentuk lain, menjadi pengemudi lokomotif yang membawa gerbong bangsa.

Sebenarnya menjadi masinis lokomotif politik adalah pilihan yang lebih masuk akal. Nurcholish muda hidup di tengah keluarga yang lebih kental membicarakan soal politik ketimbang mesin uap. Keluarganya berasal dari lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) dan ayahnya, Kiai Haji Abdul Madjid, adalah salah seorang pemimpin partai politik Masyumi. Saat terjadi “geger” politik NU keluar dari Masyumi dan membentuk partai sendiri, ayahnya tetap bertahan di Masyumi. Sahabat Cak Nur, Utomo Dananjaya, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina mengatakan, “Dengan nuansa politik pada waktu itu, keluarga Cak Nur biasa mengobrol, mendengar, bicara soal-soal politik.”

Utomo kerap dituding sebagai salah seorang “kompor” yang mendorong Nurcholish ke pentas politik. Atas tudingan itu ia berseloroh, “Ah tidak, politik sudah ada dalam pemikiran Cak Nur sejak pemilu tahun 1955. Generasi saya dan dia sudah cukup dewasa untuk memahami, membaca, dan melihat politik.”

Kesadaran politik Nurcholish muda terpicu oleh kegiatan orang tuanya yang sangat aktif dalam urusan pemilu. Apalagi orang tua santri Kulliyatul Mualimin al-Islamiyah Pesantren Darus Salam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, itu adalah kiai, tokoh masyarakat, sekaligus pemimpin Masyumi. “Mengobrol dalam keluarga tentu termasuk juga soal politik. Hanya, Cak Nur itu kan yang menonjol pemikirannya, bukan sikap politiknya,” kata Utomo, yang akrab dipanggil Mas Tom.

Politik praktis mulai dikenal Nurcholish saat menjadi mahasiswa. Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Ciputat, tempat Nurcholish menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Pengalamannya bertambah saat menjadi salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Saat menjadi kandidat ketua umum, kemampuan Nurcholish sudah cukup komplet. Pikirannya, ngajinya, menjadi imam, khotbah, ceramah agama, bagus semua. “Orang-orang HMI waktu itu terpukau oleh pikiran-pikiran Cak Nur,” kata Utomo menirukan kekaguman Eky Syahrudin Duta Besar Indonesia untuk Kanada itu.

Kendati memimpin organisasi mahasiswa ekstrakurikuler yang disegani pada awal zaman Orde Baru, Nurcholish tidak menonjol di lapangan sebagai demonstran. Bahkan namanya juga tidak berkibar di lingkungan politik sebagai pengurus Komite Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), kumpulan mahasiswa yang dianggap berperan menumbangkan Presiden Sukarno dan mendudukkan Mayor Jenderal Soeharto sebagai penggantinya. Prestasi Cak Nur lebih terukir di pentas pemikiran. Terutama pendapatnya tentang soal demokrasi, pluralisme, humanisme, dan keyakinannya untuk memandang modernisasi atau modernisme bukan sebagai Barat, modernisme bukan westernisme. Modernisme dilihat Cak Nur sebagai gejala global, seperti halnya demokrasi.

Pemikiran Nurcholish tersebar melalui berbagai tulisannya yang dimuat secara berkala di tabloid Mimbar Demokrasi, yang diterbitkan HMI. Gagasan Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak orang, hingga Nurcholish digelari oleh orang-orang Masyumi sebagai “Natsir muda”. “Gelar Natsir muda itu bukan karena dia pintar agama, melainkan karena pemikiran-pemikirannya. Saat itu hampir semua orang bilang begitu,” ujar Utomo, yang mengaku kenal Nurcholish sejak tahun 1960-an, yaitu saat Tom menjadi Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Nurcholish Ketua Umum HMI.

Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan khalayak, terutama para aktivis gerakan Islam, adalah saat pemimpin umum majalah Mimbar Jakarta ini melontarkan pernyataan “Islam yes, partai Islam no”. Nurcholish ketika itu menganggap partai-partai Islam sudah menjadi “Tuhan” baru bagi orang-orang Islam. Partai atau organisasi Islam dianggap sakral dan orang Islam yang tak memilih partai Islam dalam pemilu dituding melakukan dosa besar. Bahkan, bagi kalangan NU, haram memilih Partai Masyumi. Padahal orang Islam tersebar di mana-mana, termasuk di partai milik penguasa Orde Baru, Golkar. Pada waktu itu sedang tumbuh obsesi persatuan Islam. Kalau tidak bersatu, Islam menjadi lemah. Cak Nur menawarkan tradisi baru bahwa dalam semangat demokrasi tidak harus bersatu dalam organisasi karena keyakinan, tetapi dalam konteks yang lebih luas, yaitu kebangsaan.

Karena gagasannya ini, tuduhan negatif datang ke arah Nurcholish, mulai dari pemikir aktivis gerakan Islam sampai peneliti asing. Di dalam negeri, pemikiran Nurcholish ditentang tokoh Masyumi, Profesor H.M. Rasjidi. Sedangkan dari negeri jiran, Malaysia, ia dicerca oleh Muhammad Kamal Hassan, penulis disertasi yang kemudian diterbitkan dengan judul Muslim Intellectual Responses to “New Order” Modernization in Indonesia. Hassan menuding Nurcholish sebagai anggota Operasi Khusus (Opsus) di bawah Ali Moertopo. Tudingan ini dibantah Utomo, yang kenal betul pribadi Nurcholish. “Tuduhan itu tidak berdasar, karena kami saat itu benar-benar bersama-sama. Itu fitnah, dan Kamal Hassan tak pernah bertemu kami untuk mengkonfirmasi sumbernya itu,” ujar Tom.

Kejutan berikut datang lagi pada Pemilu 1977, dalam pertemuan di kantor Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), saat para aktivisnya sedang cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik. Nurcholish satu-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar. “Sebab, waktu itu, menurut Cak Nur, Golkar sudah memiliki segalanya, militer, birokrasi, dan uang,” kata Utomo. Maka, dalam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (P3), Nurcholish mengemukakan teori “memompa ban kempes”, yaitu pemikiran agar mahasiswa memilih partai saja ketimbang Golkar. “Cak Nur percaya pada check and balances, mengajak mahasiswa agar tidak memilih Golkar, dan dia tak masuk Golkar. Ada pengaruh atau tidak? Nyatanya, di Jakarta PPP menang. Dengan tema demokrasinya itu, orang menjadi lebih berani, sehingga Golkar di Jakarta terus-terusan kalah,” ujar Mas Tom.

Pemikiran politik Nurcholish semakin memasuki ranah filsafat setelah ia kuliah di Universitas Chicago, di Chicago, Illinois, Amerika Serikat, untuk meraih gelar doktor dalam bidang filsafat. Nurcholish terlibat perdebatan segitiga yang seru dengan Amien Rais dan Mohamad Roem. Pemicunya adalah tulisan Amien Rais di majalah Panji Masyarakat, “Tidak Ada Negara Islam”, yang menggulirkan kegiatan surat-menyurat antara Nurcholish yang berada di Amerika dan Roem di Indonesia. Cak Nur menyatakan tidak ada ajaran Islam yang secara qoth’i (jelas) untuk membentuk negara Islam. Surat-surat pribadi itu ternyata tak hanya dibaca Roem, tetapi juga menyebar ke tokoh lain, misalnya Ridwan Saidi dan Tom sendiri.

Barangkali itu sebabnya, ketika Nurcholish pulang dari Amerika pada tahun 1984, setelah meraih gelar Ph.D, lebih dari 100 orang menyambutnya di Pelabuhan Udara Internasional Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Mereka antara lain Fahmi Idris, Soegeng Sarjadi, A.M. Fatwa, dan para tokoh lainnya. “Cak Nur saya kira istimewa. Ketika pulang dari AS, ternyata banyak sekali orang yang menyambutnya. Saya tidak pernah melihat seseorang yang selesai sekolah disambut seperti itu,” kata Mas Tom kagum.

Di kalangan alumni HMI, Nurcholish sangat berpengaruh. Misalnya, saat Korps Alumni HMI (KAHMI) akhirnya menerima Pancasila sebagai asas tunggal dan harus menemui Presiden Soeharto di Istana, Nurcholish “diculik” kawan-kawan HMI-nya untuk menghadap Presiden. “Karena ada orang yang berusaha tidak mengikutkannya. Tapi ada yang menyatakan dia harus ikut. Sebab, kalau Cak Nur datang, pertemuan menjadi cukup kuat,” kata Mas Tom yang ahli pendidikan itu.

Pertemuan Nurcholish dengan Soeharto terakhir, pada Mei 1998, menunjukkan besarnya pengaruh Cak Nur. Saat itu Nurcholish berbicara langsung kepada Soeharto memintanya mundur.

Kata Mereka Tentang Cak Nur
Namun, kritik terhadap seseorang selalu ada. Demikian pula halnya terhadap Cak Nur. Penentang lama Nurcholish, Daud Rasyid, meragukan kemampuan Cak Nur. Menurut Daud, pengalaman Cak Nur terjun ke kancah politik belum ada. “Cak Nur cukup dekat dengan pemerintah Orde Baru, sering memanfaatkan situasi, dan mengikuti arah politik pada saat itu,” katanya. Nah, tipe pemimpin seperti itu, menurut Daud, susah diharapkan membawa bangsa yang besar. “Pemimpin yang dikenal tegar saja menghadapi sebuah rezim kadang-kadang tak kuat,” ujar Daud. Rupanya, Daud tak menyimak sepuluh butir pernyataan yang menjadi platform Cak Nur. Salah satu butirnya menyebutkan perlunya dilakukan rekonsiliasi nasional. Dan hanya dengan cara ini bangsa Indonesia bisa menjadi bangsa besar.

Kritik lain datang dari melalui buku Pluralisme Borjuis (Kritik atas Nalar Pluralisme Cak Nur) yang ditulis Nur Khalik Ridwan. Ridwan melakukan kajian kritis atas gagasan pluralisme Cak Nur. Peneliti alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menganggap pemikiran Cak Nur, kendati memiliki tingkat liberalisasi tinggi, serta didukung penguasaan khazanah Islam klasik dan modern, telah menjadi semacam rezim kebenaran atau hegemoni intelektual bercorak logosentris. Pribadinya cenderung dikultuskan, dan gagasannya "disakralkan".

Dalam resensi yang ditulis J. Sumardianta, Pustakawan, tinggal di Yogyakarta mencatat pluralisme Cak Nur inilah yang dikaji Khalik dengan perspektif lain.

Berdasarkan hasil lacakan atas genealogi keluarga dan komunitas sosialnya, Khalik menyebut Cak Nur berasal dari lingkaran Islam borjuis. Tipologi Islam borjuis digunakan Khalik untuk mengidentifikasi kelas mengengah atas muslim perkotaan yang secara ekonomi mapan, ideologinya condong ke Masyumi-HMI, dan cenderung mengusung simbol-simbol Islam formal. Menurut Khalik, pluralisme Cak Nur, yang bertumpu pada gagasan Islam agama universal, tetap berputar di orbit komunal partikular karena masih melihat kebenaran agama lain dengan perspektif agama sendiri.

Dalam konteks ahlulkitab, Cak Nur hanya terpaku pada agama formal dan mengesampingkan "paham-paham keagamaan" masyarakat adat yang terkesan primitif namun kaya kearifan. Gagasan Cak Nur tentang sekularisasi (menghindarkan umat dari kecenderungan mengukhrawikan persoalan duniawi tanpa kecuali gagasan negara Islam) dan modernisasi (menganjurkan umat berpikir rasional dengan mendukung pembangunan) dinilai Khalik sebagai strategi buat mengelabui rezim otoritarian Orde Baru. Agar komunitas Islam borjuis tidak terus-menerus larut dalam trauma kepahitan politik dibubarkannya Masyumi.

Ide “Islam yes, partai Islam no”, yang diintroduksi Cak Nur saat Soeharto mengebiri partai berbasis agama dan ideologi pada awal 1970-an, dinilai Khalik sebagai strategi neo-Masyumi untuk bersimbiosis dengan kepentingan rezim, agar mereka tidak lagi dituduh mengusung formalisme Islam ke arena politik. Dan, agar Soeharto memandang pewaris Masyumi menyantuni Islam substantif. Tak mengheran bila mereka banyak yang jadi petinggi Golkar dan terserap ke birokrasi pemerintahan.

Pluralisme Cak Nur, di mata Khalik, tidak memiliki sensitivitas pembebasan bagi kaum buruh, petani miskin di pedesaan, penghuni kampung kumuh, gelandangan, dan "sampah masyarakat" perkotaan lainnya yang rentan ketidakadilan sekaligus pengambinghitaman. Konsepsi Cak Nur tentang Islam sebagai agama keadilan, agama kemanusiaan, dan agama peradaban hanya bisa diakses kaum profesional dan eksekutif muda bergelimang duit, namun kerontang spiritual, melalui berbagai kursus filsafat keagamaan yang diselenggarakan Paramadina di hotel-hotel berbintang. Tak mengherankan pula bila Khalik menyebut kinerja Cak Nur sebagai pluralisme borjuis.

Sayang, kerangka sosiologi pengetahuan John B. Thompson, dalam Studies in the Theory of Ideology (1985), kurang didayagunakan Khalik untuk mempertajam hasil analisis. Kendati disajikan dengan langgam subjektivitas yang meledak-ledak, buku ini tergolong karya teologi pembebasan tahap keempat. Refleksinya sudah menggunakan metode analisis nonmarxis, berangkat bukan dari dogmatisme agama, melainkan keprihatinan iman wong kesrakat, dan menyantuni heterogenitas agama dalam perjumpaannya dengan Islam.*** Yayat, dari berbagai sumber.

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

//-->

Sunday, June 14, 2009


Prof Dr HM Roem Rowi, MA (01)




Nama:
PROF DR HM ROEM ROWI, MA
Lahir:
Ponorogo, 3 Oktober 1947
Jabatan:
Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya

Alamat Rumah:
Jl. Wisma Pagesangan VII/7 Surabaya
Telepon: (031) 8290377 HP 08121653557

Penyelami Rahasia Al-Qur’an

Doktor Ilmu Tafsir, ini seorang berkepribadian ulet, tidak kenal menyerah. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur (2000-2005) ini seorang penyelami rahasia Al-Qur’an terkemuka di Indonesia. Guru Besar Ilmu Al-Quran Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel, Surabaya, ini tak pernah berhenti menyelami rahasia Ilahi dan mengkaji sistematika Allah dalam Al-Qur’an.

Prof Dr HM Roem Rowi, MA (02)

Membentuk Karakter di Gontor

Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, segala-galanya bagi M Roem Rowi. Di sanalah dia memperoleh pendidikan watak, rohani, ilmu pengetahuan dan olahraga. Dari Gontor dia memperoleh beasiswa ke Madinah dan Mesir.

Prof Dr HM Roem Rowi, MA (03)

Tukang Cuci Piring di Belanda

Roem Rowi acapkali bernasib mujur. Tidak lama setelah tamat dari Universitas Islam Madinah, dia memperoleh beasiswa di Universitas Al-Azhar, Mesir. Beasiswa itu didapat dari Ketua MPRS AH Nasution yang menunaikan ibadah haji, kemudian melakukan lawatan ke beberapa negara di Timur Tengah. Namun untuk menambah biaya kuliahnya, Roem melanglang ke Belanda, jadi pekerja kasar.

Prof Dr HM Roem Rowi, MA (04)

Bersahaja Ala Mesir

Meskipun punya uang dari beasiswa dan hasil kerja kasar di Belanda, M Roem Rowi bersama teman-temannya membiasakan diri hidup hemat ala Mesir. Di Mesir, pejabat atau petinggi negara tinggal di pemukiman-pemukiman rakyat biasa. Pemerintah memberi subsidi bagi kebutuhan pokok rakyatnya.

//-->


Add Image


Ulil Abshar Abdhalla

Menjadi Muslim Liberal



Nama:
Ulil Abshar Abdhalla
Lahir:
Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967
Jabatan:
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.
Ayah:
Abdullah Rifa'i
Mertua:
KH Mustofa Bisri

Pendidikan:
- Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah
- Pondok Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati
- Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang
- Sarjana dari Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta
- Semapt kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta

Karir:
- Ketua Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta
- Staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta
- Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP)
- Penasehat Ahli Harian Duta Masyarakat
- Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)
- Direktur Freedom Institute, Jakarta.

Penghargaan:


Alamat:

Sumber:
Jaringan Islam Liberal - Islamlib.com

Bedah Buku 16/12/2005:“Ulil dalam hal ini bertindak seperti Ibnu Rusyd yang membela habis-habisan kemerdekaan berpikir dalam Islam,” tulis Gus Dur dalam makalahnya. Akibatnya pun dapat terduga; keduanya harus menanggung takfîr (dituduh kafir) oleh mereka yang berpikiran sempit dan takut akan perubahan.

BIOGRAFI

Ulil Abshar Abdhalla

Koordinator Jaringan Islam Liberal

Koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Direktur Freedom Institute, Jakarta, ini lahir di Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967. Dia berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama. Ayahnya Abdullah Rifa'i dari pesantren Mansajul Ulum, Pati, sedang mertuanya, KH Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Raudlatut Talibin, Rembang.

Pendidikan menengahnya diselesaikan di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oleh KH. M. Ahmad Sahal Mahfudz (Rois Am PBNU 1999-2004 dan 2004-2009). Pria bernama lengkap Ulil Abshar Abdhall ini pernah nyantri di Pesantren Mansajul 'Ulum, Cebolek, Kajen, Pati, serta Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang.

Gelar sarjananya diraih dari Fakultas Syari'ah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) Jakarta. Semapt pula mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara.

Dia pun mengetuai Lakpesdam (Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Maya Manusia) Nahdlatul Ulama, Jakarta. Juga menjadi staf di Institut Studi Arus Informasi (ISAI), Jakarta, serta Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Ia juga tercatat sebagai Penasehat Ahli Harian Duta Masyarakat.

Sebagai pendiri dan kordinator Jaringan Islam Liberal yang yang sering menyuarakan liberalisasi tafsir Islam, Ulil menuai banyak simpati sekaligus kritik. Atas kiprahnya dalam mengusung gagasan pemikiran Islam liberal itu, Ulil disebut sebagai pewaris pembaharu pemikiran Islam melebihi Nurcholish Madjid.

Dalam situs resmi JIL dijelaskan, apa itu Islam liberal? Islam Liberal adalah suatu bentuk penafsiran tertentu atas Islam dengan landasan:

a. Membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad atau penalaran rasional atas teks-teks keislaman adalah prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bisa bertahan dalam segala cuaca. Penutupan pintu ijtihad, baik secara terbatas atau secara keseluruhan, adalah ancaman atas Islam itu sendiri, sebab dengan demikian Islam akan mengalami pembusukan. Islam Liberal percaya bahwa ijtihad bisa diselenggarakan dalam semua segi, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual), dan ilahiyyat (teologi).

b. Mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Ijtihad yang dikembangkan oleh Islam Liberal adalah upaya menafsirkan Islam berdasarkan semangat religio-etik Qur'an dan Sunnah Nabi, bukan menafsirkan Islam semata-mata berdasarkan makna literal sebuah teks. Penafsiran yang literal hanya akan melumpuhkan Islam. Dengan penafsiran yang berdasarkan semangat religio-etik, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal.

c. Mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural. Islam Liberal mendasarkan diri pada gagasan tentang kebenaran (dalam penafsiran keagamaan) sebagai sesuatu yang relatif, sebab sebuah penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu; terbuka, sebab setiap bentuk penafsiran mengandung kemungkinan salah, selain kemungkinan benar; plural, sebab penafsiran keagamaan, dalam satu dan lain cara, adalah cerminan dari kebutuhan seorang penafsir di suatu masa dan ruang yang terus berubah-ubah.

d. Memihak pada yang minoritas dan tertindas. Islam Liberal berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kepada kaum minoritas yang tertindas dan dipinggirkan. Setiap struktur sosial-politik yang mengawetkan praktek ketidakadilan atas yang minoritas adalah berlawanan dengan semangat Islam. Minoritas di sini dipahami dalam maknanya yang luas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik, dan ekonomi.

e. Meyakini kebebasan beragama. Islam Liberal meyakini bahwa urusan beragama dan tidak beragama adalah hak perorangan yang harus dihargai dan dilindungi. Islam Liberal tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan.

f. Memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Islam Liberal yakin bahwa kekuasaan keagamaan dan politik harus dipisahkan. Islam Liberal menentang negara agama (teokrasi). Islam Liberal yakin bahwa bentuk negara yang sehat bagi kehidupan agama dan politik adalah negara yang memisahkan kedua wewenang tersebut. Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, tetapi agama tidak punya hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Agama berada di ruang privat, dan urusan publik harus diselenggarakan melalui proses konsensus.

Mengapa disebut Islam Liberal?

Nama "Islam liberal" menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial-politik yang menindas. "Liberal" di sini bermakna dua: kebebasan dan pembebasan. Kami percaya bahwa Islam selalu dilekati kata sifat, sebab pada kenyataannya Islam ditafsirkan secara berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan penafsirnya. Kami memilih satu jenis tafsir, dan dengan demikian satu kata sifat terhadap Islam, yaitu "liberal". Untuk mewujudkan Islam Liberal, kami membentuk Jaringan Islam Liberal (JIL).

Mengapa Jaringan Islam Liberal?

Tujuan utama kami adalah menyebarkan gagasan Islam Liberal seluas-luasnya kepada masyarakat. Untuk itu kami memilih bentuk jaringan, bukan organisasi kemasyarakatan, maupun partai politik. JIL adalah wadah yang longgar untuk siapapun yang memiliki aspirasi dan kepedulian terhadap gagasan Islam Liberal.

Apa misi JIL?

Pertama, mengembangkan penafsiran Islam yang liberal sesuai dengan prinsip-prinsip yang kami anut, serta menyebarkannya kepada seluas mungkin khalayak.

Kedua, mengusahakan terbukanya ruang dialog yang bebas dari tekanan konservatisme. Kami yakin, terbukanya ruang dialog akan memekarkan pemikiran dan gerakan Islam yang sehat.

Ketiga, mengupayakan terciptanya struktur sosial dan politik yang adil dan manusiawi.

Kegiatan Pokok

Di samping itu, dipublikasikan juga beberapa kegiatan pokok Jaringan Islam Liberal yang sudah dilakukan, di antaranya:

Sindikasi Penulis Islam Liberal. Maksudnya adalah mengumpulkan tulisan sejumlah penulis yang selama ini dikenal (atau belum dikenal) oleh publik luas sebagai pembela pluralisme dan inklusivisme. Sindikasi ini akan menyediakan bahan-bahan tulisan, wawancara dan artikel yang baik untuk koran-koran di daerah yang biasanya mengalami kesulitan untuk mendapatkan penulis yang baik. Dengan adanya “otonomi daerah”, maka peran media lokal makin penting, dan suara-suara keagamaan yang toleran juga penting untuk disebarkan melalui media daerah ini. Setiap minggu, akan disediakan artikel dan wawancara untuk koran-koran daerah.

Talk-show di Kantor Berita Radio 68H. Talk-show ini akan mengundang sejumlah tokoh yang selama ini dikenal sebagai “pendekar pluralisme dan inklusivisme” untuk berbicara tentang berbagai isu sosial-keagamaan di Tanah Air. Acara ini akan diselenggarakan setiap minggu, dan disiarkan melaui jaringan Radio namlapanha di 40 Radio, antara lain; Radio namlapanha Jakarta, Radio Smart (Menado), Radio DMS (Maluku), Radio Unisi (Yogyakarta), Radio PTPN (Solo), Radio Mara (Bandung), Radio Prima FM (Aceh).

Penerbitan Buku. JIL berupaya menghadirkan buku-buku yang bertemakan pluralisme dan inklusivisme agama, baik berupa terjemahan, kumpulan tulisan, maupun penerbitan ulang buku-buku lama yang masih relevan dengan tema-tema tersebut. Saat ini JIL sudah menerbitkan buku kumpulan artikel, wawancara, dan diskusi yang diselenggarakan oleh JIL, berjudul Wajah Liberal Islam di Indonesia.

Penerbitan Buku Saku. Untuk kebutuhan pembaca umum, JIL menerbitkan Buku saku setebal 50-100 halaman dengan bahasa renyah dan mudah dicerna. Buku Saku ini akan mengulas dan menanggapi sejumlah isu yang menajdi bahan perdebatan dalam masyarakat. Tentu, tanggapan ini dari perspektif Islam Liberal. Tema-tema itu antara lain: jihad, penerapan syari’at Islam, jilbab, penerapan ajaran “memerintahkan yang baik, dan mencegah yang jahat” (amr ma’ruf, nahy munkar), dll.

Website Islamlib.com. Program ini berawal dari dibukanya milis Islam Liberal (islamliberal@yahoogroups.com) yang mendapat respon positif. Ada usulan dari beberapa anggota untuk meluaskan milis ini ke dalam bentuk website yang bisa diakses oleh semua kalangan. Sementara milis akan tetap dipertahankan untuk kalangan terbatas saja. Semua produk JIL (sindikasi media, talk show radio, dll.) akan dimuat dalam website ini. Web ini juga akan memuat setiap perkembangan berita, artikel, atau apapun yang berkaitan dengan misi JIL.

Iklan Layanan Masyarakat. Untuk menyebarkan visi Islam Liberal, JIL memproduksi sejumlah Iklan Layanan Masyarakat (Public Service Advertisement) dengan tema-tema seputar pluralisme, penghargaan atas perbedaan, dan dan pencegahan konflik sosial. Salah satu iklan yang sudah diproduksi adalah iklan berjudul "Islam Warna-Warni".

Diskusi Keislaman. Melalui kerjasama dengan pihak luar (universitas, LSM, kelompok mahasiswa, pesantren, dan pihak-pihak lain), JIL menyelenggarakan sejumlah diskusi dan seminar mengenai tema-tema keislaman dan keagamaan secara umum. Termasuk dalam kegiatan ini adalah diskusi keliling yang diadakan melalui kerjasama dengan kelompok-kelompok mahasiswa di sejumlah universitas, seperti Universitas Indonesia Jakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Institut Pertanian Bogor, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dll. ►e-ti/tsl


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia

//-->

Utomo Dananjaya

Menjembatani Pembaruan








Nama:
Utomo Dananjaya
Lahir:
Kuningan, Jawa Barat, 6 Februari 1936
Istri:
Mien Muthmainnah Sudibya

Anak/Menantu:
1. Tatat Rahmita UtamiEman Sulaiman Mukhtar
2. Lulu Lutfiasari/Indra Darma Lubis
3. Yanyan Ridayani (Alm)
4. Rini Fajarini Dewi/Agus Setiawan
5. Agus Mukhlis Barlian/Hani Ariati Sudarwati
6. Poppy Ismalina/Johanes Nicolaas Warouw

Cucu:
1. Haikal Akbar
2. Fianda Fatasani Lubis
3. Haqi Hanif Barlian
4. Zeidra Birru Barlian
5. Rifqi Mukti Wicaksana Lubis
6. Anastasia Astrid Putri Pratama Warouw
7. Amartya Amelia Warouw
8. Aescylus Afghan Afdhalur Rahman
9. Sayyidah Syarifatullah’la

Pendidikan:
-Sekolah Rakyat, Mandirancan, 1951
-Sekolah Menengah Pertama, Kuningan, 1953
-Sekolah Guru A, Bandung, 1957
-Pendidikan Guru SLP, Bandung, 1961
-IKIP Bandung, 1965

Pekerjaan dan Organisasi:
-Ketua Perhimpunan LP3ES, 2005-Sekarang
-Ketua Yayasan Pekerti, 1997
-Sekarang Ketua Pengawas P3M, 1998-Sekarang
-Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadia, 2003-Sekarang
-Wakil Rektor Universitas Paramadina Mulya, 1998-2002
-Ketua Tim Pendiri Universitas Paramadina Mulya, 1995-1998
-Direktur Pelaksana Yayasan Paramadina Mulya, 1995-1998
-Konsultan Senior PT Pan Asia research and Communication, 1983-2003
-Pembantu Rektor I Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), 1987-1993
-Pembantu Rektor II Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA), 1983-1987
-Direktur Sekolah Tinggi Wiraswasta (STW), 1980-1993
-Direktur Pembinaan Pekerti, 1980-1982
-Koordinator Program Industri Kecil LP3ES, 1974-1980
-Koordinator Trainee Program LP3ES, 1974-1976
-Manajer Publikasi Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, 1971-1974
-Staf Direksi PT Samudra Jaya, 1979-1981
-Pj. Ketua Umum PB Pelajar Islam Indonesia (PII), 1967-1969
-Guru SMP Negeri Bandung, 1964-1966
-Guru SMP Negeri Garut, 1957-1964

Keahlian Khusus:
1. Pemandu Pelatihan AMT
2. Pemandu Pelatuhan ZOPP
3. Pemandu Pelatihan ICA
4. Pemandu Pelatihan GRI

Alamat Kantor:
Wisma Kodel Lt. 11
Jalan HR Rasuna Said Kav. B-4, Kuningan
Jakarta Selatan

Alamat Rumah:
Jalan Cipinang Jaya II E/20
Jakarta 13410

Mas Tom “The Living Bridge” adalah judul buku biografi menandai genap 70 tahun usia tokoh pembaharu pemikiran Islam Indonesia, Utomo Dananjaya. Direktur Intitute for Education Reform Universitas Paramadina, ini mempunyai peran strategis di antara berbagai ekstrimitas pemikiran yang saling berbeda.

Utomo pada periode tahun 1967-1969 menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Pelajar Islam Indonesia (PII), memulai kedekatan hubungan pribadi dan pemikiran, tentang gerakan keislaman yang mantap dengan Cak Nur sejak awal tahun 1970-an.

Saat itu Utomo, Humas dan Manajer Publisiti TIM, mengusulkan nama Nurcholish kepada Komisi Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), yang sedang dipimpin oleh budayawan Umar Kayam (Alm), untuk berbicara di forum TIM, dan disetujui pula.
Nurcholish Madjid, tokoh pluralis yang dikenal memiliki pemikiran keagamaan yang progresif, saat itu tampil menghentak publik dalam sebuah orasi tentang Pembaruan Pemikiran Islam.

Pidato itu sontak menyulut polemik keras, dan dicatat sebagai pidato yang paling bersejarah dalam dinamika perkembangan Islam di tanah air. Bahkan Prof. William Liddle, seorang Indonesianis dari The Ohio State University, AS, turut menilai pidato itu sebagai revolusi yang telah mengubah dunia kaum Muslim Indonesia. (Majalah Tempo, 11 September 2005).

Usai pidato itu, Utomo serta-merta menjadi turut sebagai bagian dari suatu pergerakan yang dikenal sebagai pembaruan pemikiran Islam. Momentum inilah yang telah menyeret aktivis yang, ketika masih muda sangat begitu militan dan berobsesi sekali untuk ingin mendirikan Negara Islam, terjun ke kancah pergulatan dakwah Islam yang tidak biasa.

Memiliki nama yang tak kalah populer dengan sahabat karibnya, Nurcholish Madjid (Almarhum), atau Cak Nur, sosok Utomo Dananjaya memang sangat lekat dengan cendekiawan muslim yang meninggal dunia karena sakit lever, pada 29 Agustus 2005, di RS Pondok Indah itu. Sampai-sampai situs TokohIndonesia.Com harus mendokumentasikan, bahwa Cak Nur, setelah melafalkan nama Allah lalu menghembuskan nafas terakhir persis di sisi istri, anak, menantu, dan Utomo sebagai satu-satunya ‘orang lain’ di luar anggota keluarga.

Utomo mulai mewartakan hal-hal yang melawan pandangan umum, menggugat interpretasi monolitik atas Islam, dan karena itu oleh banyak orang pikiran dan gagasannya dinilai sebagai “kesesatan”.
Utomo secara elok mengambil peran mengawal gagasan pembaruan pemikiran Islam yang ditabuh oleh Nurcholish. Bukan hanya mengawal, menjadikannya pula sebagai suatu gerakan yang terencana, sistematis, dan dilembagakan. Kelak, persahabatan keduanya tersaksikan emosional sekaligus intelektual yang sangat produktif.

Dari persahabatan keduanya ini pulalah lahir Paramadina, sebuah lembaga pencerahan yang mempromosikan ide-ide kebebasan berpikir, keterbukaan, toleransi beragama, dan tesis-tesis tentang bagaimana membangun peradaban Islam yang inklusif.

Paramadina adalah eksperimentasi Utomo atas gagasan pembaruan pemikiran Islam, yang sudah dilontarkan Nurcholish sejak awal 1970-an. Karena itu, bagi banyak orang Paramadina adalah Nurcholish dan Utomo.

Dari Majelis Reboan
Syahdan, sebuah kelompok pengajian bernama Majelis Reboan terbentuklah pada tahun 1983, sebagai sebuah dunia yang lain lagi bagi Utomo. Sejak pembentukannya Utomo terlihat sudah terlibat aktif, di Majelis yang sesungguhnya tak lebih sebagai tempat kumpul-kumpul sejumlah kalangan intelektual, aktivis, praktisi politik, hingga kelompok profesional dan bisnis.

“Di sini prinsipnya kita hanya mengaji saja, tapi bukan baca Yasin atau ceramah melainkan diskusi dengan niat lillahi ta’ala,” kata Utomo, sebagaimana tertuang dalam buku “Mas Tom The Living Bridge”, karya seorang penulis sekaligus intelektual muda Ahmad Gaus AF.

Pada mulanya Majelis Reboan didirikan dengan semangat untuk memperlebar ruang kebebasan publik, termasuk kebebasan berbicara yang pada masa itu (dekade 1980-an) sulit ditemukan. Wilayah civil society nyaris habis, dan sebagian besar kekuatan masyarakat terkooptasi oleh rezim. Elemen-elemen kekuatan Islam merunduk di bawah tanah, lantaran rezim memperlihatkan kecenderungan anti-Islam.

Meskipun bukan organisasi besar, kegiatan Majelis Reboan cukup banyak menyedot perhatian publik. Lebih-lebih ketika Cak Nur (Nurcholish Madjid) dan Gus Dur (KH Abdurrahan Wahid) mulai sering dilibatkan. Kenang Utomo, Cak Nur dan Gus Dur dua tokoh yang menjadi bahan bakar Majelis. Gus Dur berbicara politik praktis, Cak Nur membahas isu-isu keislaman. Sosok keduanya penting sebagai pemantik publikasi.

Tampilnya Gus Dur sebagai Ketua Umum PB NU, dalam Muktamar NU di Situbondo tahun 1984 membawa angir segar dalam diskursus keislaman di tanah air. Pada saat itu NU juga mengumumkan deklarasi untuk kembali ke “Khitah 26”. Maksudnya, mundur dari percaturan politik praktis.

Majelis Reboan tidak melewatkan momentum tersebut. Kemenangan Gus Dur dirayakan dengan syukuran dan makan malam di gedung YTKI (Yayasan Tenaga Kerja Indonesia), Jakarta. Utomo mengundang sejumlah tokoh, terutama dari kalangan muda, untuk ikut berkumpul dan bersuka cita.

Keesokannya tajuk rencana harian Kompas mengapresiasi acara itu sebagai pertemuan kalangan intelektual muda yang masih bersih, sederhana, jujur dan rendah hati, belum tercemar Orde Baru.

Dalam perjalanan waktu kemudian sejumlah aktivis Majelis Reboan hijrah ke Paramadina. Utomo ingat betul kisah kronologinya. Ketika Cak Nur selesai belajar di Amerika, dan pulang ke tanah air pada 1984 dengan menggondol gelar dktor, sebagian anggota Majelis Reboan meminta Nurcholish untuk mendirikan lagi sebuah forum, yang lalu kelak diberi nama Paramadina. Dalam rapat kedua pembetukan barulah Cak Nur diundang.

“Saya mau tapi harus ada Utomo,” kata Cak Nur, ketika itu. Jadilah Utomo ikut pula aktif dalam pendirian Paramadina.

Adalah Cak Nur dan Utomo yang mengusulkan nama Paramadina bagi lembaga baru yang hendak didirikan. Parama, yang artinya utama atau prima, itu usulan dari Cak Nur dan Dina, yang artinya agama, usulan dari Utomo.

Jadilah nama Paramadina diterima antusias oleh para pendiri. Dalam rapat-rapat pendirian Utomo mengusulkan agar disusun Manifesto Pendirian. Usul ini disambut oleh Cak Nur, dengan menyusun Wawasan Dasar Yayasan Wakaf Paramadina.

Di mata Utomo, antara Majelis Reboan dan Paramadina memiliki kesamaan. Yaitu sama-sama memperjuangkan kebebasan, pluralisme, dan toleransi agama. Paramadina mengembangkan doktrin, Majelis Reboan mempraktekkan peradaban. Untuk kerja-kerja kemanusiaan semacam itulah, hampir seluruh hidup Utomo dicurahkan di mana saja, tidak hanya di Paramadina dan Majelis Reboan.

Menjembatani Perbedaan
Utomo adalah kritikus yang jenaka. Endang Basri Ananda, seorang mubaligh kenamaan pernah merasakan kritik jenaka ini. Dalam sebuah ceramah, Endang Basri Ananda berbicara panjang lebar tentang berbagai bencana yang menimpa negeri mulai angin topan, banjir, tanah longsor, gempa bumi. Kata Endang, Tuhan murka karena manusia sudah ingkar dan menjauhi-Nya. “Wah, Tuhan ente kok kejam banget di mana-mana menebar bencana dan cobaan,” sindir Utomo.

Sindiran juga Utomo sampaikan kepada Salamullah, sebuah kelompok pengajian pimpinan Lia Aminuddin, yang gencar mengumumkan akan ada berbagai bencana di muka bumi sebagai kutukan Tuhan. Kepada Abdur Rahman, yang disebut-sebut sebagai Imam Besar Jamaah Salamullah, Utomo berpesan, “Tolong bilang pada Jibril, sekali-kali kasih berita gembira dong, jangan berita buruk terus. Supaya kita semua punya harapan hidup.”

Pada kesempatan lain Utomo pernah mendengarkan khutbah Jumat seorang kenalan bernama Drs Abujamin Roham. Roham menguraikan kelebihan al-Quran dibanding kitab-kitab suci lain seperti Injil. Al-Quran disebutnya sebagai kitab suci paling sempurna, dan paling lengkap, sedangkan Injil tidak.

Oleh sebab itu seharusnya umat manusia hanya berpegang pada kitab suci yang sempurna, yakni Al-Quran. Usai shalat Jumat Utomo menghampiri sang khatib, sambil menyampaikan pertanyaan retoris, “Tuhan ente masih bodoh, ya, waktu membuat Injil?”

Utomo merupakan kritikus jenaka yang mampu berdiri di semua kelompok. Tak jarang ia menjembatani berbagai perbedaan di antara kelompok-kelompok yang berbeda, dengan tetap memiliki warna dan sikap yang jelas. Itu sebab, orang banyak menyebut Utomo sebagai the living bridge atau “jembatan hidup”.

Ungkapan “temannya musuh adalah musuh”, itu tidak berlaku buat Utomo. Dua orang atau dua pihak yang sedang bermusuhan, tetap bisa sama-sama menganggap Utomo sebagai teman pada saat yang sama.

Ketika Gus Dur bertikai dengan orang-orang ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia), Utomo tetap berkawan baik dengan Gus Dur sekaligus dengan orang-orang ICMI. Utomo tidak ikut mengeritik ICMI sebagaimana Gus Dur. Tetapi juga tidak masuk ICMI, seperti banyak temannya yang lain.

Sebagai “jembatan hidup” Utomo berdiri di antara kelompok yang liberal dan yang konservatif. Ia tetap konsisten dengan mandat pembaruan. Baginya, pembaruan adalah kebutuhan semua orang.

Ketika tahun 1970-an bersama Nurcholish Madjid dan kawan-kawan menggulirkan gagasan pembaruan, Utomo tetap tidak membuat jarak dengan para aktivis Islam yang berbeda pandangan. Ia mengunjungi teman-teman militan yang dipenjara rezim Suharto, sambil tetap menyatakan tidak setuju dengan cara-cara yang mereka tempuh.

Utomo Dananjaya selama lebih dari 20 tahun terakhir mengembangkan ide-ide besar tentang pluralisme, inklusivisme, dan toleransi agama. ►e-ti/ht


*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

//-->

Saturday, June 13, 2009


Yusman Roy

Inti Agama Adalah Akhlak Mulia





Nama:
Muhammad Yusman Roy
Lahir:
Surabaya 25 Februari 1955
Agama:
Islam

Karir:
- Pengasuh Pondok Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang

Isteri:
Supartini
Anak:
- Fitri Lestari
- Hepi Yestiningtyas
- Yes Kurniayanti
- Imam
- Fitri Rofiyanti
- Nur Pangestin
- Moh Roy Zulkarnaen
- Asmarani Nur Mariam
- Saati Nur Mariam

Yusman Roy, pria kelahiran Surabaya 25 Februari 1955, dipenjara gara-gara mengajarkan salat dua bahasa. Tetapi, apa pandangan dia tentang akhlak dan keberagamaan? Berikut perbincangan Kajian Utan Kayu (KIUK) dengan Pengasuh Pondok Iktikaf Ngaji Lelaku, Malang itu, di Kantor Berita Radio 68H Jakarta, beberapa waktu lalu.

Bagaimana awal mula Anda mengenal agama?
Sebenarnya ini berawal semata-mata dari faktor usia. Sejak remaja, sudah ada kesadaran pada diri saya tentang perlunya melakukan kebaikan. Terus terang, saya cemburu pada teman-teman yang bisa berkelakuan baik dan punya moralitas tinggi. Ini terjadi sekitar 1980-an.

Karena itu, saya turun dari ring tinju (Roy adalah mantan petinju profesional) setelah sempat memecahkan rekor tercepat KO tinju profesional di Indonesia.

Selanjutnya bagaimana?
Dari sana saya mulai iri melihat teman-teman yang berkelakuan lebih baik dari saya. Lalu saya mulai mempelajari agama dan membaca Alquran yang ada terjemahannya. Saya juga mulai belajar bahasa Arab.

Alhamdulillah, setelah itu saya jadi tahu persis bahwa segala sesuatunya akan kembali kepada kekuasaan Allah. Allah berfirman, "Allah akan menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya." Hal ini tak bisa ditawar-tawar. Allah berkenan memberi petunjuk dan membimbing saya, sehingga pintu hati saya dibukakan untuk memahami Islam.

Sebelum memeluk Islam, seperti apa riwayat keberagamaan Anda?
Bapak saya Islam, tapi ibu saya keturunan Belanda memeluk Katolik. Karena itu, di masa kecil, saya Katolik. Tapi, pilihan beragama pada waktu itu bukan atas dasar kesadaran, tapi lebih karena ikut-ikutan.

Karena itu, saya belum bisa merasakan kenikmatan beribadah kepada Allah. Secara otomatis kenakalan-kenakalan masa kecil tak bisa dihindari, sampai memasuki usia remaja dan menjalani profesi sebagai petinju.

Jujur saya katakan, saya pernah hidup di masa jahiliah. Artinya, terlalu bebas dan tidak memakai aturan-aturan. Tapi, itu bagian dari hidup saya yang tidak bisa dipisahkan. Itu juga hal yang patut saya syukuri.

Karena itu, memasuki usia ke-52 ini, saat melihat anak-anak nakal, saya tak terlalu pesimistis. Saya tetap punya harapan. Sebab, diri saya yang dulu nakal nggak ketulungan, toh bisa sadar dan berhenti juga. Dan, Alhamdulillah, tiba-tiba Allah membukakan pintu hati saya untuk berijtihad dengan gagasan salat dua bahasa yang diterima sebagian kalangan muslim.

Anda ingin menekankan bahwa dalam kehidupan itu ada fase-fase atau terminal-terminal yang harus dilalui orang?
Ya. Itu saya katakan sesuai dengan filsafat Jawa: aja dumeh. Maksudnya, kalau melihat sesuatu yang kurang pas, janganlah terlalu dikecam, tapi kita arahkan ke arah yang lebih baik. Istilahnya, selalu bil hikmah atau dengan kearifan.

Jangan bertindak diskriminatif karena itu tak akan memberi kesempatan kepada orang untuk berbuat baik. Berikan orang kesempatan berbuat baik. Caranya banyak.

Misalnya?
Dalam hidup, saya sudah terbiasa melihat anak-anak nakal. Kuncinya: bagaimana kita, sebagai orang tua, mengarahkan yang muda tanpa rasa sakit hati. Kebanyakan orang tua nelangsa ketika melihat anak muda yang nakal. Mungkin itu karena tidak ada pembekalan yang cukup pada orang tua tentang bagaimana mendidik anak yang tak cocok dengan keinginannya. Padahal, itu justru memukul hati sendiri. Biarlah sang anak berkembang sendiri.

Adakah guru yang ikut membimbing Anda masuk Islam dan menginspirasi untuk punya gagasan tertentu tentang Islam?
Awalnya saya mengaji syariat dasar kurang lebih lima belas tahun. Setelah itu saya tingkatkan lagi dengan mengambil jurusan bil hikmah. Itu lima tahun, dengan seorang kiai yang cukup ternama di Surabaya dan Malang. Jadi, 20 tahun saya menuntut ilmu. Setelah 20 tahun menuntut ilmu, saya lalu mengemas gagasan untuk memperbaiki kualitas salat, baik sendiri maupun berjamaah.

Mengapa secara spesifik memilih salat?
Dari sanalah saya berangkat memperbaiki akhlak saya pribadi. Salat itu tiangnya agama. Dan dalam agama dikatakan juga bahwa Inna as-shalâta tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar (sesungguhnya salat itu mencegah perbuatan buruk dan kemunkaran)". Itu tercantum dalam Alquran surat 29: 45. Jadi, saya ingin ada pembentukan karakter melalui salat.

Tapi salat jenis apakah yang Anda maksud?
Memang tidak sembarang salat. Tiwas orang sudah kelihatan aktif salat, tapi karakternya tetap tak berubah; masih tetap ada kefasikan-kefasikan. Ini sungguh menusuk hati saya. Banyak orang yang aktif salat, tapi juga jadi penjahat besar. Setelah saya dekati, ternyata benar apa yang saya prediksi: mereka melafalkan bahasa Arabnya saja. Mereka tak tahu artinya. Inilah yang jadi masalah.

Padahal, dalam Alquran surat al-Ma’un (4-5), Allah berfirman: Fawailun lil mushallîn, alladzîna hum `an shalâtihim sâhun (celakalah pelaku salat yang melalaikan salatnya). Lalai di sini banyak aspeknya. Bisa juga karena tidak tahu konsekuensi dari apa yang dibaca dan apa yang didengarnya.

Maksudnya?
Bisa saja orang terbiasa mendengarkan imam dalam salat. Tetapi, bisa jadi sang makmum tidak paham maksud dan pesan dari ayat-ayat yang dibacakan imam. Karena itu, tidak ada yang bisa diingat. Dari sanalah saya menyimpulkan adanya orang yang gagal salat, dan itu celaka betul.

Dalam surat Maryam ayat 59, Allah berfirman: "Maka datanglah sesudah mereka golongan yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatannya."

Menurut saya, orang yang menyia-nyiakan salat itu jumlahnya cukup lumayan, termasuk saya sendiri dulu. Akibatnya, banyak orang yang salat, tapi masih melakukan kejahatan.

Bagi saya, hanya salat yang berkualitaslah yang bisa membuat orang berakhlak karimah. Saya membuktikan, dengan memperbaiki kualitas salat, kehidupan saya ternyata mulai stabil. Dari sana saya mulai menular-nularkan pengalaman kepada orang lain.

Kapan fase kesadaran itu tumbuh?
Sesudah dewasa, ketika saya sudah punya anak dan mulai mengasuh sebuah pondok di Malang. Pondok itu saya bangun untuk menampung teman-teman yang datang dengan membawa berbagai masalah. Ada yang sumpek, karirnya gagal, dan sebagainya.

Mereka saya arahkan untuk salat dengan memahami apa yang dia baca dalam salat yang menggunakan bahasa Arab.

Menurut Anda unsur apa dari agama yang paling penting?
Tentu saja budi pekerti. Kalau kita berangkat dari agama yang konsisten, akan ada buahnya, yaitu adanya akhlak yang karimah. Nabi Muhammad sendiri menyatakan bahwa dia diutus untuk menyempurnakan budi pekerti. Jadi inti dari agama itu ada pada akhlak.

Nah, bagi kita yang beragama impor ini sudah barang tentu harus paham arti dan isi pesannya. Kalau bahasanya saja kita tidak tahu, bagaimana kita bisa menghayati isinya. (nvriantoni, Indo Pos, Jumat, 15 Juni 2007) ►ti

Siap Masuk Penjara
MOHAMMAD Yusman Roy, kelahiran Surabaya 25 Februari 1955, belakangan ini menjadi sorotan. Bahkan, di kalangan tokoh agama, ulama, termasuk Majelis Ulama Indonesia, namanya juga menjadi perbincangan.

Belakangan ini kalangan mantan petinju juga membicarakannya. Sebab, di ruangan tempat dia dan jamaahnya (santri) shalat dan mengaji, terpampang fotonya saat di atas ring menganvaskan Suwito dari Sasana Kilometer 5 Yogya dalam waktu 59 detik.

Tidak banyak yang tahu siapa dia sebenarnya. Pelatih Sasana Sawunggaling Surabaya pun mengaku tidak kenal dan merasa tidak ada petinju di sasananya yang bernama Yusman Roy. Demikian pula Wongsosuseno, yang menjadi petinju di sasana itu hingga 1982-an, juga tidak kenal Yusman Roy yang mengaku sebagai petinju Sawunggaling.

Jangankan masyarakat, istrinya pun, Supartini, gadis asal Ngantang, Pujon Batu, yang dinikah Roy tahun 1985, juga tidak tahu masa lalu Yusman Roy, pendiri Pondok I'tikaf Jamaah Ngaji Lelaku. Kenalnya pun karena Supartini sengaja menyimpan guntingan koran yang memuat foto Yusman Roy saat mengenakan sarung tinju.

Padahal, teman-temannya tahu, Supartini tidak suka olahraga tinju. Tetapi saat melihat foto Yusman Roy mengenakan sarung tinju, dia ingin sekali berkenalan dengan lelaki itu.

"Tumbu oleh tutup" mungkin itu kata-kata yang tepat ditujukan kepada pasangan Yusman Roy - Supartini. Supartini penasaran untuk berkenalan, dan Yusman Roy yang lengan kanannya penuh tato melontarkan tantangannya untuk melamarnya, meski masa berkenalan hanya tiga minggu.

Dan jadilah pasangan itu suami-istri, yang kini dikarunia 9 anak, yaitu Fitri Lestari (19), Hepi Yestiningtyas (17), Yes Kurniayanti (15), Imam (12), Fitri Rofiyanti (11), Nur Pangestin (8), Moh Roy Zulkarnaen (5), Asmarani Nur Mariam (4,5), dan si bungsu, Saati Nur Mariam, yang berusia 16 bulan.

Kerasnya kehidupan pada masa lalu telah menempa dirinya menjadi laki-laki yang tahan bantingan. Termasuk saat memulai ajarannya itu, dia sudah siap dipenjara.

Bahkan, kerasnya menghadapi kehidupan dan kenyataan hidup sudah diajarkan pada anak dan istrinya. Begitu dia dipanggil Polres Malang, Supartini dan beberapa anaknya yang remaja dan dewasa sudah bisa menerima kenyataan dan tampak tegar. Sementara anak-anaknya yang masih kecil justru dengan bangga bercerita bahwa ayahnya sering masuk televisi.

Selama Roy di tahanan, anak dan istrinya beranggapan bahwa Gus Roy masih lelaku.

Kesederhanaan yang melekat pada Gus Roy selaku pendiri pondok itu juga tercermin pada rumah yang ditinggalinya. Bangunannya bersebelahan dengan pondok serta musala yang digunakan untuk shalat bagi jamaah. Memang tidak banyak yang menduga tempat itu sebuah pondok, karena memang aktivitas santri ataupun pengajian tidak begitu tampak. Pada malam bulan purnama, pondok itu menggelar pengajian rutin yang disebut Malam Qomariah.

M Yusman Roy, pemimpin pondok ini, mengungkapkan, shalat dengan dua bahasa (Arab dan Indonesia) itu dilakukannya, karena pada umumnya saat shalat berjamaah, makmum tidak mengerti bacaan imam. Banyak orang yang belum memahami bacaan imam. Karena itu, shalat di sini dibuat berbeda, yaitu imam membaca dua kali ayat Quran dengan bahasa Arab dan Indonesia. (jo-29t, Suara Merdeka, Senin, 09 Mei 2005)

//-->


KH Yusuf Hasyim (1929-2007)

Mustasyar Ponpes Tebuireng






Nama:
KH Yusuf Hasyim
Panggilan:
Pak Ud
Lahir:
Jombang, 3 Agustus 1929
Meninggal:
Surabaya, 14 Januari 2007

Ayah:
Hadratus Syekh Hasyim Asy`ari

Jabatan:
- Mustasyar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur

Karir:
- Pemimpin Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, sampai 13`April 2006
- Anggota DPR RI
- Wakil Ketua MPP PPP
- Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU)

Tokoh senior (sesepuh) NU dan Mustasyar Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Yusuf Hasyim, kelahiran Jombang, 3 Agustus 1929 yang akrab dipanggil Pak Ud, meninggal dunia hari Minggu, 14 Januari 2007 pukul 18.40 di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo Surabaya. Putra pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, itu meninggal akbat menderita radang paru-paru.


Yusuf Hasyim dirawat di Kamar 628 rumah sakit itu sejak 2 Januari 2007. Wakil Presiden Jusuf Kalla sempat membesuknya di ruang ICU Gedung Bedah Terpadu, Sabtu (13/1). Sebelum dirawat di RSU Dr Soetomo, Yusuf Hasyim dirawat di RSUD Jombang selama tiga hari sejak Sabtu (30/12).

Pak Ud sempat menjalani operasi kecil pada 11 Januari 2007, untuk mengeluarkan lendir dari tenggorokan yang terluka karena sering muntah. Namun ternyata virus yang ada di dalam lendir itu sudah menyerang paru-parunya.


Mantan Ketua Umum Partai Kebangkitan Ummat (PKU), itu sebelumnya terjatuh di kamar rumahnya di Cukir pada 30 Desember 2006. Setelah jatuh, dia mengeluh sakit pinggang. Kemudian, kondisinya memburuk. Yusuf Hasyim dirawat di RSUD Jombang, lalu dirujuk ke RSU Dr Soetomo.


Jenazah kakek dari 11 cucu itu dimakamkan Senin 15 Januari 2007 di Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Hari Minggu, 14/1, ribuan santri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur menyambut kedatangan jenazah sesepuh pengasuh ponpes Tebuireng itu dengan bacaan tahlil.

Pengasuh Ponpes Tebuireng
Puluhan tahun KH Yusuf Hasyim alias Pak Ud mengasuh Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, sekaligus menjadi politisi nasional. Dia pernah menjabat anggota DPR RI, Wakil Ketua MPP PPP, dan Ketua Umum Partai Kebangkitan Umat (PKU). Sejak 13 April 2006, dia menyerahkan tongkat kepemimpinan Ponpes Tebuireng kepada keponakannya, KH Salahudin Wahid (Gus Solah).

Acara penyerahan kepemimpinan tersebut digelar bersamaan Tahlil Akbar dan Pertemuan Alumni Ponpes Tebuireng yang dihadiri Menteri Agama Maftuh Basuni. Dalam kesempatan itu, Pak Ud menyatakan, sudah saatnya Ponpes Tebuireng melakukan regenerasi pada pucuk pimpinan. Ini diperlukan agar terjadi proses yang sehat dalam tradisi suksesi. "Itulah sebabnya, beberapa waktu lalu saya mengajukan permintaan pengunduran diri dari pimpinan Tebuireng. Alasannya, karena usia saya pada tahun ini sudah mencapai 77 tahun. Kedua, saya ingin menciptakan tradisi regenerasi pimpinan yang berjalan mulus,'' ujarnya dalam pidato sambutan.

Dengan usia 77, menurut Pak Ud, dia menjadi pimpinan tertua di kalangan ponpes se-Kabupaten Jombang. Sebagai perbandingan, usia KH Asad Umar, pimpinan Ponpes Darul Ulum, Peterongan, 73 tahun; dan KH Sholeh, pimpinan Ponpes Tambakberas, berusia 72 tahun.


''Dengan pertimbangan itu, saya sudah bulat mengajukan pengunduran diri yang dibahas beberapa kali di internal keluarga besar Bani Hasyim Asyari dan internal Pondok Tebuireng. Semuanya sepakat dengan pengganti Gus Sholah, yang tidak lain keponakan saya sendiri,'' ucap Pak Ud.

Pak Ud juga segera meningalkan ''rumah dinas'' yang disebutnya sebagai dalem kasepuhan, yang dulunya rumah pribadi almarhum KH Hasyim Asyari. Dia pindah ke kediaman pribadinya, di Cukir, masih dekat pondok.

Kepada Gus Sholah, Pak Ud meminta, istiqamah dan berpegang teguh pada semangat perjuangan pondok yang digariskan mendiang KH Hasyim Asyari. Gus Sholah, mengaku siap memimpin pondok dengan jumlah santri sekitar 7 ribu tersebut. Apalagi dia punya keinginan agar bisa pulang ke Jombang, daerah kelahiranya. ''Karena keinginan itu, saya menolak ketika ditawari menjadi Dubes di Aljazair. Saya lebih memilih memimpin pondok ini,'' papar adik kandung Gus Dur ini.


Dalam silsilah keluraga Bani Hasyim Asyari, Gus Sholah merupakan cucu dari pendiri Ponpes Tebuireng dan pendiri NU tersebut. Dia putra dari almarhum KH Wahid Hasyim. Sedangkan Pak Ud adalah putra dari almarhum KH Hasyim Asyari. Di antara putra-putri almarhum KH Hasyim Asyari, Pak Ud satu-satunya putra yang masih hidup. ► e-ti/dap, dari berbagai sumber

//-->